Sabtu, 23 Januari 2010

Analisis Novel "Para Priyayi"

A. Identitas Novel

Judul : Para Priyayi
Pengarang : Umar Kayyam
Penerbit : Pustaka Utama Grafiti
Tahun Terbit : 2001

B. Sinopsis

Soedarsono anak keluarga buruh tani yang oleh sanak saudaranya diharapkan menjadi "pemula" untuk membangun keluarga priyayi. Berkat dorongan Asisten Wedana Ndoro Seten, ia dapat sekolah dan menjadi seorang guru. Disinilah ia mulai menapaki dunia priyayi pangreh praja. Soedarsono memiliki tiga orang anak, Noegroho (Opsir Peta), Hardojo (Guru), dan Soemini (istri Asisten Wedana). karena hidup berkecukupan Soedarsono merasa wajib membantu sanak saudaranya yang tidak mampu, dibawalah tiga keponakannya (Sri, Soedarmin, dan Soenandar) untuk ikut tinggal dan di sekolahkan di Wanagalih. Salah atu keponakannya Soenandar memiliki perangai yang berbneda dari yang lain, jail, nakal, dan selalu gagal dalam belajar.

Suatu ketika Seodarsono yang telah berganti nama menjadi Sastrodarsono, mengutus Soenandar untuk mengurus sekolah yang didirikannya di Wanalawas, diharapkan agar Soenandar lebih mandiri dan dapat bertanggung jawab. tapi Soenandar justru menghamili anak penjual tempe dan kabur. Lahirlah Wage yang kemudian diboyong ke wanagalih, dirawat dan disekolahkan, kemudian diganti namanya menjadi Lantip. Ia sangat cerdas, sopan, dan sangat menghormati orang tua. lantip diangkat sebagai anak oleh Hardojo yang hanya memiliki satu anak bernama Harimurti. Suatu ketika Hari terjebak dalam pergaulannya di Lekra. ia menjadi buron karena dianggap sebagai anggota Gestapu yang berbau PKI. Hari sempat masuk penjara tapi berkat usaha paman Noegroho ia berhasil dibebaskan tapi dengan syarat dan jaminan. Gadis, kekasih Hari yang sedang mengandung anak Hari ikut tertangkap dan dipenjara. akhirnya ia dan anaknya meninggal dunia beberapa hari sebelum keluarga datang untuk memberikan jaminan agar ia bisa bebas. Lantip tampil untuk mengembalikan jalan pikir Hari. ia juga yang mengurus sagala masalah Marie, Putri paman Noegroho yang hamil di luar nikah.

Lantip akhirnya menikah dengan gadis Padang bernama Halimah. Lantip masih saja menjadi penengah keluarga Sastrodarsono sampai Eyang putri dan kakung wafat, dan sampai seterusnya ia menjadi harapan keluarga. Lantiplah yang sebenar-benarnya menegaskan makna priyayi, pengabdian pada wong cilik, berkat pemikirannya yang rasional.

C. Tema

Tema pada novel ini dapat dilihat melalui pengungkapan suatu persoalan dari keseluruhan cerita yang disajikan. bila diamati dari urutan cerita dapat diambil kesimpulan bahwa tema dari cerita Para Priyayi ini adalah perjuangan priyayi sejati demi mengayomi keluarga dan rakyat miskin.

D. Alur/ Plot

Runtutan peristiwa dalam cerita ini maju kemudian kembali kebelakang dengan menceritakan kisah yang terlewatkan. dapat disimpulkan bahwa novel Para Priyayi ini memiliki alur cerita yang amju mundur (flashback). dengan menggunakan sudut pandang orang pertama, namun uniknya tokoh yang ada didalamnya seolah-olah bergantian bercerita.

E. Latar/ Setting

cerita ini memiliki latar tempat di desa kecil di tepi sungai Bengawan Solo yang bernama Wanagalih. Diceritakan pula sebuah sketsa yang berlatar di Solo dan Yogya, namun hanya sepintas. suasana yang digambarkan sangat jelas, dengan menjelaskan lekuk-lekuk tempat, titik-titik peristiwa, bahkan penggambaran itu sama persis dengan aslinya(kenyataan) karena memang novel in diambil dari kehidupan nyata. bahkan dikisahkan pula peristiwa pemberontakan G 30 S PKI dengan latar alun-alun kota pada masa itu, dengan suasana mencekam.

F. Tokoh dan Perwatakan
  • Lantip, dengan watak tegas, bijaksana dan cerdas
  • Sastrodarsono, Eyang pembangun keluarga priyayi ini digambarkan dengan sosok penuh wibawa, pejuang sejati, kebapakan, dan teguh pendirian.
  • Ngaisah, Eyang putri yang sangat sabar, keibuan, dan penuh kasih sayang
  • Noegroho, anak sulung dan seorang tentara Peta Yogya, yang berwatak keras. tegas adn berwibawa.
  • Hardojo, anak kedua yang menjadi abdi dalem Mangkunegaran di Solo, ia sangat penyabar dan cinta tanah air.
  • Soemini, anak bungsu yang memiliki prinsip hidup yang kokoh, cerdas dan sangat mengutamakan pendidikan
  • Harimurti, sosok yang mudah terhasud, seniman yang memiliki citra rasa yang tinggi.
G. Konflik

Konflik yang terjadi adalah ketika Jepang masuk menggantikan Belanda untuk menjajah Indonesia. Sastrodarsono mendapat fitnah dan hampir kehilangan pekerjaannya. kemudian masalah datang silih berganti mulai dari tertangkapnya Harimurti, anggota Lekra yang dituduh sebagai anggota Gestapu, kemudian ia menghamili Gadis. Eyang putri wafat setelah beberapa bulab sebelumnya mendapat kabar bahwa cucuny Marie, anak Noegroho yang seorangpensiunan kolonel dan Direktur perusahaan Negara, hamil di luar nikah. Dan kemudian Eyang kakung meninggal. Tapi semua dapat diatasi berkat Lanti Sang anak jadah yang cerdas.

H. Amanat

amanat yang dapat kita petik adalah bagaimana sebenarnya seorang yang dikatakan "priyayi" yaitu seorang yang dapat mengayomi keluarga dan rakyat miskin. memiliki pendirian yang kokoh dan berjuang keras tanpa pamrih. selalu menjaga nama baik keluarga. "Mikul duwur, Mendem jero" (menjunjung tinggi nama baik, mengubur dalam aib keluarga).

Demikian terima kasih, semoga bermanfaat dan anda tertarik membaca novel ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar